Frequently Asked Questions (FAQ)

Temukan jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan seputar HIV/AIDS dan layanan kami.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih yang disebut sel CD4. Jika tidak diobati, HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit. 

  • HIV adalah nama virusnya. Seseorang bisa hidup dengan HIV selama bertahun-tahun tanpa menunjukkan gejala yang serius jika menjalani pengobatan.
  • AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah stadium akhir dari infeksi HIV. AIDS terjadi ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat rusak (jumlah sel CD4 sangat rendah) sehingga muncul berbagai kumpulan gejala penyakit serius (infeksi oportunistik). Seseorang tidak "terkena AIDS", melainkan infeksi HIV-nya yang berkembang menjadi AIDS.

Tidak. Dengan pengobatan Antiretroviral (ARV) yang rutin dan tepat, virus HIV dapat ditekan hingga tidak terdeteksi. Ini membuat sistem kekebalan tubuh tetap kuat dan mencegah infeksi HIV berkembang menjadi AIDS. ODHIV yang patuh berobat bisa hidup sehat dengan harapan hidup yang sama seperti orang tanpa HIV.

HIV menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu dari orang yang terinfeksi HIV, yaitu:
  • Darah
  • Air mani dan cairan pra-ejakulasi
  • Cairan vagina
  • Cairan rektum/anus
  • Air Susu Ibu (ASI)
Penularan paling umum terjadi melalui:
  • Hubungan seks (vaginal, anal, atau oral) tanpa pengaman (kondom).
  • Berbagi jarum suntik atau alat suntik lainnya (misalnya pada pengguna narkoba suntik).
  • Dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
  • Transfusi darah yang terkontaminasi (sangat jarang terjadi di Indonesia karena darah donor sudah diskrining).

HIV TIDAK MENULAR melalui:

  • Gigitan nyamuk atau serangga lain.
  • Bersalaman, berpelukan, atau ciuman pipi.
  • Berbagi makanan, minuman, atau alat makan.
  • Menggunakan toilet, kolam renang, atau sauna yang sama.
  • Keringat, air mata, atau air liur (selama tidak ada luka terbuka).
  • Tinggal serumah dengan ODHIV.

Siapapun bisa terinfeksi HIV, tanpa memandang usia, jenis kelamin, ras, atau orientasi seksual. Namun, risiko menjadi lebih tinggi jika seseorang melakukan perilaku berisiko seperti berhubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang status HIV-nya tidak diketahui, atau berbagi jarum 

Pada tahap awal (2-4 minggu setelah terinfeksi), beberapa orang mungkin mengalami gejala mirip flu seperti demam, ruam, sakit tenggorokan, dan kelelahan. Namun, banyak juga yang tidak mengalami gejala sama sekali. Satu-satunya cara untuk mengetahui status HIV seseorang adalah melalui tes. 

Waktu yang tepat adalah setelah melewati "periode jendela" (window period), yaitu waktu antara saat virus masuk ke tubuh hingga tubuh memproduksi antibodi yang cukup untuk dideteksi oleh tes. Periode ini bervariasi, tetapi umumnya tes akan akurat jika dilakukan 1 bulan setelah perilaku berisiko terakhir. Untuk hasil yang paling pasti, disarankan tes ulang 3 bulan setelahnya.

Anda bisa melakukan tes HIV di:
  • Puskesmas
  • Rumah Sakit
  • Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing)
  • Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli HIV/AIDS.
Tes HIV bersifat rahasia, sukarela, dan didahului serta diakhiri dengan konseling.

Saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV sepenuhnya (menghilangkan virus dari tubuh). Namun, ada pengobatan yang sangat efektif.

ARV (Antiretroviral) adalah obat yang digunakan untuk menekan perkembangbiakan virus HIV di dalam tubuh. ARV harus diminum setiap hari seumur hidup. Obat ARV di Indonesia disediakan gratis oleh pemerintah.

 U=U berarti Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan. Ketika ODHIV minum ARV secara teratur dan jumlah virus (viral load) di dalam darahnya menjadi sangat rendah hingga tidak terdeteksi oleh alat tes, maka ia tidak dapat menularkan HIV kepada pasangannya melalui hubungan seksual.

Tentu saja bisa. ODHIV bisa menikah dengan pasangan HIV-negatif. Dengan terapi ARV yang patuh hingga mencapai status tidak terdeteksi (U=U), risiko penularan ke pasangan sangat rendah (bahkan nol). Selain itu, dengan perencanaan kehamilan yang baik dan pengawasan medis, seorang ibu dengan HIV bisa melahirkan anak yang HIV-negatif.

  • Abstinence: Absen atau tidak melakukan hubungan seks.
  • Be Faithful: Saling setia pada satu pasangan yang status HIV-nya negatif.
  • Condom: Selalu gunakan kondom saat berhubungan seks.
  • Drugs: Hindari penggunaan narkoba, terutama jarum suntik bersama.
  • Education & Equipment: Edukasi diri tentang HIV dan gunakan peralatan steril (jarum, dll).

  • PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis): Obat ARV yang diminum oleh orang HIV-negatif yang berisiko tinggi untuk mencegah penularan HIV.
  • PEP (Post-Exposure Prophylaxis): Obat ARV darurat yang diminum segera (maksimal 72 jam) setelah seseorang merasa terpapar HIV untuk mencegah terjadinya infeksi.

Perlakukan mereka seperti biasa. Berikan dukungan moral dan emosional. Ingat, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari. Stigma dan diskriminasi seringkali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri. Lawan stigma dengan menyebarkan informasi yang benar.